HealthcareUpdate News

Tuberkulosis Ginjal, Penyakit Senyap yang Perlu Diwaspadai

Kabar meninggalnya vokalis band Element, Lucky Widja, pada usia 49 tahun kembali menyorot tuberkulosis ginjal, penyakit serius yang kerap luput dikenali karena gejalanya tidak selalu khas.

Dunia musik Tanah Air berduka atas kepergian Lucky Widja, vokalis band Element, yang meninggal dunia pada usia 49 tahun. Dalam sejumlah pemberitaan, Lucky diketahui sempat mengidap tuberkulosis ginjal, salah satu bentuk tuberkulosis ekstra paru yang relatif jarang dibahas, namun berisiko tinggi jika terlambat ditangani.

Tuberkulosis ginjal terjadi ketika bakteri Mycobacterium tuberculosis menyebar dari paru-paru ke ginjal melalui aliran darah. Berbeda dengan TB paru yang ditandai batuk berkepanjangan, TB ginjal sering berkembang secara perlahan dan tanpa gejala mencolok pada tahap awal, sehingga banyak pasien baru terdiagnosis ketika kondisi sudah cukup berat.

Pada fase awal, penderita tuberkulosis ginjal bisa mengalami keluhan ringan seperti sering buang air kecil, nyeri atau rasa tidak nyaman di pinggang, serta urine yang tampak keruh. Seiring berjalannya waktu, gejala dapat memburuk menjadi nyeri saat buang air kecil, urine bercampur darah, demam ringan yang hilang timbul, penurunan berat badan, hingga kelelahan kronis.

Jika tidak ditangani dengan tepat, infeksi TB pada ginjal dapat merusak jaringan ginjal secara permanen. Pada kondisi tertentu, penyakit ini bahkan dapat memicu gagal ginjal dan komplikasi serius lain yang mengancam nyawa. Inilah yang membuat tuberkulosis ginjal disebut sebagai penyakit senyap, karena dampaknya sering baru terasa saat kerusakan sudah meluas.

Kasus yang dialami Lucky Widja menjadi pengingat bahwa tuberkulosis tidak selalu menyerang paru-paru. TB juga bisa menyerang organ lain seperti ginjal, tulang, kelenjar getah bening, hingga otak. Organisasi kesehatan global mencatat bahwa TB ekstra paru masih menjadi tantangan besar dalam upaya eliminasi tuberkulosis, termasuk di Indonesia.

Read More  Studi Ungkap Golongan Darah O Lebih Kecil Risiko Penyakit Jantung, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Pencegahan tuberkulosis ginjal pada dasarnya tidak terlepas dari pencegahan TB secara umum. Menjaga daya tahan tubuh, menerapkan pola hidup bersih dan sehat, serta memastikan pengobatan TB paru dijalani hingga tuntas menjadi langkah kunci. Pengobatan TB yang tidak selesai dapat meningkatkan risiko penyebaran bakteri ke organ lain.

Selain itu, masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan gejala yang berkaitan dengan saluran kemih, terutama jika disertai penurunan kondisi tubuh secara umum. Deteksi dini melalui pemeriksaan medis sangat penting, karena TB ginjal dapat diobati dengan terapi obat anti-tuberkulosis jika ditemukan lebih awal.

Kepergian Lucky Widja tidak hanya meninggalkan duka bagi penggemar dan rekan musisi, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap tuberkulosis dalam segala bentuknya. Kesadaran masyarakat terhadap TB ekstra paru, termasuk tuberkulosis ginjal, diharapkan dapat mendorong diagnosis lebih cepat dan mencegah dampak fatal di kemudian hari.

Back to top button